Diskusi Rutin SEMA FAI UIM Bahas Urgensi Filsafat di Era Pragmatisme AI

Makassar – Senat Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Islam Makassar (SEMA FAI UIM) menggelar kegiatan diskusi rutin bertempat di pelataran Fakultas Agama Islam UIM, forum ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa FAI UIM yang antusias menguji ide dan gagasan terkait perkembangan zaman pada Kamis siang (24/9/2026).

Diskusi kali ini mengusung topik dasar yang krusial, yakni Pengantar Filsafat. Inisiatif ini digagas untuk menghidupkan kembali tradisi dialektika ilmiah di kalangan mahasiswa Islam, sekaligus merespons cepatnya perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang memengaruhi pola pikir akademisi muda saat ini.

Hadir sebagai pemateri atau panelis, Aldiamin, S.Pd., alumni FAI UIM yang kini tengah menyelesaikan studi jenjang Magister di Universitas Islam Makassar. Diskusi berjalan secara interaktif dan dinamis dengan dipandu oleh M. Sahid, salah satu pengurus SEMA FAI UIM yang bertindak sebagai moderator.

Dalam pemaparannya, Aldiamin menyoroti dinamika maraknya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di kalangan mahasiswa yang kian pragmatis. Menurutnya, pemanfaatan AI yang tidak dibentengi dasar berpikir kritis berisiko menumpulkan daya analitis dan orisinalitas pemikiran mahasiswa.

“Pengantar filsafat bukan sekadar mempelajari sejarah pemikiran, melainkan mengasah alat potong logika kita. Saat ini kita melihat fenomena mahasiswa yang secara pragmatis bergantung pada AI tanpa memahami urgensi proses analisis di baliknya,” ujar Aldiamin di hadapan peserta diskusi.

Ia menegaskan bahwa gagasan keilmuan dan dasar kefilsafatan sangat penting dimiliki oleh mahasiswa untuk menghadapi gempuran era digital. Tanpa pemahaman filosofis yang kuat, mahasiswa rentan hanya menjadi konsumen hasil pemikiran mesin tanpa mampu menguji kebenaran maupun etika dari informasi yang dihasilkan.

Proses penalaran dan pergulatan ide, lanjut Aldiamin, merupakan fondasi utama status mahasiswa sebagai agen perubahan. Ketergantungan yang berlebihan pada hasil serba instan tanpa melewati proses berpikir yang mendalam dapat mengikis esensi sejati dari pendidikan tinggi.

Melalui kegiatan ini, SEMA FAI UIM berharap tradisi intelektual dan budaya kritis terus terawat di lingkungan kampus. Pengurus berkomitmen untuk konsisten menghadirkan forum-forum diskusi ilmiah agar mahasiswa FAI UIM tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir dalam menyikapi setiap tantangan zaman.

Translate »