Makassar – Civitas Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Makassar (UIM) bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gowa melaksanakan focus group discussion (FGD) di Aula Kantor Kemenag lantai 2, Rabu (12/11/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Universitas Islam Makassar Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag, Wakil Rektor II UIM Badruddin Kaddas, M.Ag., P.Hd, Sekretaris Rektor Dr. Musdalifah, M.P, Kepala Biro Umum UIM Ahmad Najib, M.Pd, Dekan FAI, Dr. Djaenab, S.Ag., M.Hi, Wakil Dekan, Dr. M. Al-Qadri Burga, M.Pd, Ketua Prodi MPI Dr. Masri S. S.Th.I., M.Th.I, Ketua Prodi KPI & PGMI, Dr. Hj. Andi Ratna Dewi, S.Pd., M.Si, Dosen FAI Dr. Mahmud Suyuti, M.Ag dan Kepala TU FAI A. Amrullah, S.T, Tim media FAI, Ahmad Julfikar, S.Pd., M.Pd, dan kepala sub bagian Tata Usaha (Kasubag TU), H. Muhammad Jamil, S.Ag serta pegawai kemenag Kabupaten Gowa.
Hadir sebanyak 150 peserta yang terdiri dari unsur pengawas kemenag, ketua pengawas madrasah Sulsel, ketua pengawas PAIS Sulsel, kepala sekolah madrasah aliyah dan tsanawiyah, para pembina dan guru serta staf kemenag Gowa.
Kegiatan ini bertujuan mendorong percepatan peningkatan sumber daya manusia melalui forum diskusi yang mengusung tema ”Guru Madrasah dalam Mengimplementasikan Nilai-Nilai Moderasi Beragama”.
focus group discussion yang menghadirkan para pakar dalam bidang moderasi dibuka secara resmi oleh oleh kepala kantor Kemenag Kabupaten Gowa, H. Jamaris, S.Ag.
Dalam kesempatan tersebut Kepala Kemenag, H. Jamaris, S.Ag., MH, menyampaiakan bahwa lembaga pendidikan Islam yang berada dalam koordinasi kemenag harus berperan strategis dalam menangkal dan melawan persebaran paham radikal dan ekstremisme.
”Madrasah harus mengambil peran strategi untuk melawan persebaran paham yang tidak moderat, sikap beragama yang ekstrem serta radikal. Kerana madrasah menjadi benteng utama dalam merawat, menjaga serta mewariskan kepada genarasi nilai nasionalisme, patririsme terhadap NKRI”, tegasnya dihadapan ratusan peserta.
Jamaris juga menambahkan pentingnya focus group discussion sebagai respon terhadap apa yang terjadi dan berkembang saat ini mengingat beberapa kasuistis tertentu tentang dampak paham radikal dan ekstremisme yang terjadi pada siswa dibeberapa tempat.
”Ada indikasi gerakan terselubung yang masuk dan merambah dunia pendidikan, indikasi paham radikal berkembang dan berpotensi melunturkan nilai nasionalisme pelajar, di beberapa tempat kami menemukan ada siswa yang berpandangan ekstrem dalam memahami ajaran agama”, tambahnya.
Kegiatan pendampingan ini dibagi menjadi dua sesi materi utama dengan menghadirkan narasumber kredibel di moderasi beragama, yaitu Sesi I diisi oleh rektor Universitas Islam Makassar Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag, yang membahas Islam agama yang moderat. Sesi II, disampaikan oleh dosen FAI sekaligus fasilitator moderasi beragama Kemenag Sulsel, Dr. Mahmud Suyuti, M.Ag membahas urgensinya ilmu pengetahuan dalam memahami moderasi beragama.
Prof. Muammar dalam materinya menyampaikan refleksi terhadap ajaran Islam yang mengandung nilai-nilai moderat dan konteks kemampuan umatnya untuk mampu berlaku moderat.
”Dalam ajaran Islam moderasi atau moderat dikenal dengan istilah wasatiyah, moderat pada dasarnya menjadi ciri khas bagi umat Islam nabi sudah mencontohkan wasatiyah dalam kehidupannya sehingga ia menjadi pilot project dari ajaran tersebut”, pungkasnya.
Ia juga menambahkan kehadiran Islam juga menjadi agama yang membawa ajaran yang moderat diantara dua ajaran agama terdahulu.
”Islam datang sebagai agama moderat dalam ajarannya ada banyak aspek yang mengharuskan kita untuk moderat baik secara aqidah, muamalah, sosial dan juga ekonomi politik”, tambah Prof. Muammar.
Senada dengan hal tersebut, narasumber kedua Dr. Mahmud Suyuti menyampaikan bahwa kemampuan seseorang untuk berlaku moderat harus diimbangi dengan keilmuan yang mumpuni, menurutnya ilmu seseorang berperan penting untuk bisa memahami dan melaksanakan moderasi dalam beragama baik sebagai umat maupun sebagai masyarakat.
”Moderasi merupakan cerminan dari cara pandang dan sikap dalam merespon sesuatu, oleh karena itu pengetahuan seseorang menjadi sangat penting untuk membangun prespektif”, ujarnya.
Ia juga menambahkan pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya melalui pendidikan bagi seluruh stake holder kemenag Kabupaten Gowa karena itu juga berkaitan dengan sumber daya yang akan mensosialisasikan nilai-nilai moderasi beragama.
”UIM menjadi solusi bagi seluruh stake holder kemenag untuk meningkatkan sumber daya melalui pendidikan, kampus ini satu-satunya perguruan tinggi Islam dikawasan timur Indonesia yang ada mata kuliah aswaja dan moderasi beragama, karena itu harus masuk dan melanjutkan kuliahnya di UIM”, tambahnya.
focus group discussion ditutup dengan sesi foto bersama narasumber dengan seluruh peserta kegiatan peningkatan SDM tersebut.