Makassar – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), H. Nusron Wahid, menyebut Syekh Yusuf Al-Makassariy sebagai sosok ulama sekaligus pejuang yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada umat dan bangsa.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Simposium dan Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassariy (1626–2026) bertajuk “Menjaga Tanah Leluhur dalam Filosofi To Mangkasara” di Auditorium KH Muhyiddin Zain, Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali, Kamis (9/7).
Kegiatan tersebut dihadiri Rektor UIM Al-Gazali Prof Muammar Bakry, pimpinan perguruan tinggi se-Sulawesi Selatan, serta sejumlah tokoh akademis, mahasiswa dan masyarakat.
Dalam paparannya, Nusron mengulas posisi ilmu dalam Islam dengan menempatkan Syekh Yusuf sebagai teladan ulama yang tidak hanya memiliki pengetahuan mendalam, tetapi juga mengamalkannya melalui perjuangan.
“Saya meyakini Syekh Yusuf Al-Makassari termasuk kategori ulama. Ilmu saja tidak cukup. Ilmu harus diiringi rasa takut kepada Allah. Ciri ulama bukan hanya memiliki ilmu, tetapi juga mengamalkan ilmunya,” ujar Nusron.
Menurutnya, Syekh Yusuf mendedikasikan ilmunya untuk pendidikan, dakwah, hingga perjuangan melawan penjajahan, bahkan sampai ke Afrika Selatan.
“Beliau memiliki ilmu yang sangat tinggi. Beliau juga seorang pejuang. Beliau mendedikasikan hidupnya hingga ke Afrika Selatan untuk melawan penjajahan. Semoga semangat perjuangan beliau dapat diteladani oleh generasi sekarang,” katanya.
Nusron juga menyebut Syekh Yusuf termasuk dalam golongan Rabbaniyun, yakni orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk membaca, menulis, dan mengajarkan ilmu tanpa memikirkan kepentingan pribadi maupun politik.
Di atas itu, lanjutnya, terdapat golongan Ahluz Zikir, yakni mereka yang memiliki keikhlasan dan kedalaman spiritual sehingga menjadi rujukan masyarakat.
“Saya sering bertanya mengapa Al-Qur’an menggunakan istilah Ahluz Zikir, bukan Ahlul Ilmi. Salah satu jawabannya karena Ahluz Zikir sudah tidak memiliki kepentingan pribadi. Saya meyakini Syekh Yusuf Al-Makassari termasuk salah satunya,” ujarnya.
Nusron turut mengingatkan bahwa ulama Nusantara telah melahirkan banyak karya keilmuan yang diakui dunia dan menjadi rujukan di berbagai pusat pendidikan Islam internasional.
Sementara itu, Rektor UIM Al-Gazali, Prof Muammar Bakry, mengatakan tema simposium dipilih untuk mengingatkan kembali filosofi masyarakat Makassar dalam menjaga tanah sebagai amanah yang harus dirawat.
“Simposium ini kami namai dengan filosofi To Mangkasara dalam menjaga dan merawat tanah leluhur,” kata Muammar.
Menurutnya, Al-Qur’an berulang kali menegaskan pentingnya tanah sebagai bagian dari kehidupan manusia. Karena itu, manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab menjaga dan memelihara bumi.
Ia juga mengapresiasi perhatian Kementerian ATR/BPN terhadap percepatan sertifikasi tanah, termasuk tanah wakaf dan rumah ibadah, yang dinilai memberi kepastian hukum bagi aset keagamaan.
“Kami berharap seluruh rumah ibadah memiliki sertifikat wakaf sehingga terlindungi secara hukum. Ini menjadi bagian dari ikhtiar menjaga aset umat,” ujarnya.
Selain itu, Muammar berharap sinergi UIM dengan Kementerian ATR/BPN terus berlanjut, termasuk dalam mendukung pengembangan kampus, salah satunya rencana pembukaan Fakultas Kedokteran.
Ia berharap peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi mampu menumbuhkan semangat meneladani perjuangan, keilmuan, dan pengabdian ulama besar asal Makassar tersebut bagi generasi masa kini.