Ustaz Abdul Somad: Ilmu Tanpa Adab Hanya Melahirkan Bal’am dan Haman Intelektual

Ustaz Abdul Somad: Ilmu Tanpa Adab Hanya Melahirkan Bal’am dan Haman Intelektual

Makassar – Prof. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D. atau yang akrab disapa Ustaz Abdul Somad (UAS) mengingatkan pentingnya keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan adab dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Abdul Somad saat menjadi penceramah utama dalam kegiatan Kajian Islam yang digelar di Auditorium KH. Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali

Kajian Islam tersebut mengangkat tema “Tantangan Pendidikan dan Generasi di Era Digital”.

Kegiatan ini diikuti civitas akademika UIM Al-Gazali dan Musliamt Nahdlatul Ulama yang hadir untuk mendengarkan kajian keislaman yang membahas tantangan pendidikan, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta masa depan generasi di tengah transformasi digital.

Dalam ceramahnya, Ustaz Abdul Somad menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam dunia pendidikan seiring dengan kemajuan teknologi.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan, telah berlangsung sangat pesat dan menghadirkan tantangan baru bagi para pendidik.

Ia mengatakan, kemampuan teknologi dalam mengakses, mengolah, dan menyajikan informasi terus berkembang.

Bahkan, dalam hal transformasi ilmu pengetahuan, teknologi kecerdasan buatan berpotensi memiliki kemampuan yang sangat besar.

“Memang kalau untuk transformasi ilmu, mungkin kita bisa kalah. Kalah baca, kalah mencari, karena AI sudah mengumpulkan. Tinggal kita kasih judul, dia kumpulkan semua judul-judul besar, sub-sub dan referensi,” ujar Ustaz Abdul Somad.

Menurutnya, kemampuan AI dalam menghimpun informasi, mencari referensi, menyusun data, dan mengolah pengetahuan menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan.

Perkembangan tersebut bahkan memunculkan kekhawatiran bahwa sejumlah pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia, termasuk pekerjaan mengajar, dapat mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi.

Namun, Ustaz Abdul Somad menegaskan bahwa pendidikan tidak semata-mata tentang transfer pengetahuan.

Di sinilah, menurutnya, peran seorang pendidik tetap memiliki posisi yang sangat penting dan tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

“Pendidikan dalam bahasa kita adalah guru yang digugu dan ditiru,” katanya.

Ia menjelaskan, seorang guru atau dosen tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Lebih dari itu, seorang pendidik memiliki peran dalam membentuk karakter, memberikan keteladanan, serta menanamkan nilai-nilai moral dan adab.

Ustaz Abdul Somad menegaskan bahwa ada aspek penting dalam pendidikan yang tidak dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan, yakni membentuk manusia menjadi pribadi yang beradab.

“Tapi ada yang tidak bisa dilakukan AI. Apa dia? Membuatnya menjadi beradab,” tegasnya.

Menurutnya, AI dapat membantu manusia menjadi berilmu.

Teknologi dapat memberikan akses terhadap berbagai pengetahuan dan informasi. Namun, ilmu yang tidak disertai adab dapat menjadi persoalan serius.

“AI tidak bisa membuat orang menjadi beradab. Dia hanya membuat orang menjadi berilmu, tapi tidak beradab,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Ustaz Abdul Somad mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab dapat melahirkan manusia yang memiliki kecerdasan, tetapi menggunakan ilmunya tanpa pertimbangan moral dan nilai kemanusiaan.

Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan kisah Bal’am, sosok yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai perumpamaan bagi seseorang yang memiliki pengetahuan, tetapi tidak menggunakan ilmunya dalam kebaikan.

“Orang yang berilmu tidak beradab, dia akan menjadi Bal’am,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan yang hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan tanpa membangun karakter dan moral berpotensi melahirkan generasi yang cerdas, tetapi kehilangan arah.

“Kampus kalau hanya sekadar mengajarkan ilmu dan tidak mengajarkan adab, dia hanya akan mencetak Bal’am dan Haman-Haman intelektual,” tegas Ustaz Abdul Somad.

Karena itu, ia menilai tantangan pendidikan di era digital bukan hanya bagaimana menguasai teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan kemajuan teknologi berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai keislaman.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus disikapi secara bijak. Generasi muda tidak boleh menolak kemajuan teknologi, tetapi juga tidak boleh menyerahkan seluruh proses pembentukan manusia kepada teknologi.

Teknologi, kata dia, dapat menjadi alat untuk mempercepat akses terhadap ilmu. Namun, manusia tetap membutuhkan pendidik yang mampu membimbing, memberikan keteladanan, dan menanamkan adab.

Ustaz Abdul Somad menilai, sinergi antara ilmu pengetahuan modern dan nilai-nilai Islam menjadi salah satu jawaban terhadap tantangan pendidikan di era digital.

“Di mana ilmu dan adab ini bisa berjalan sejajar? Kalau dia disertai antara universitas keilmuan dengan Islam,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketika ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam berjalan beriringan, maka pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan tanggung jawab moral.

“Ketika ini sejalan, barulah kita bisa mencetak para alim, faqih, yang beradab,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Abdul Somad juga mengapresiasi pentingnya kehadiran perguruan tinggi Islam yang mampu mempertemukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman.

Menurutnya, perguruan tinggi Islam memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan pendidikan dan generasi di era digital.

Ia menyebut Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali sebagai salah satu ruang yang mempertemukan ilmu pengetahuan dan adab Islam.

“Ilmu universitas, adab Islam, maka tempat bertemunya ilmu dan adab itu adalah Universitas Islam Makassar,” ujar Ustaz Abdul Somad.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam kajian Islam yang diikuti antusias oleh peserta.

Ustaz Abdul Somad mengajak seluruh civitas academica dan generasi muda untuk tidak hanya mengejar penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadikan adab sebagai fondasi utama dalam kehidupan.

Menurutnya, kecerdasan tanpa adab dapat menjadi ancaman. Sebaliknya, ilmu yang dibangun di atas nilai moral dan akhlak akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Di era ketika informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah, tantangan pendidikan justru semakin kompleks.

Generasi muda tidak lagi hanya dituntut untuk mampu mencari informasi, tetapi juga harus mampu memilah, memahami, dan menggunakan informasi tersebut secara bertanggung jawab.

Kemampuan tersebut membutuhkan bimbingan manusia, terutama dari para pendidik, orang tua, ulama, dan lingkungan pendidikan.

Sebab, teknologi dapat menyediakan informasi, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan proses pembentukan kepribadian.

Melalui kajian tersebut, Ustaz Abdul Somad mengingatkan bahwa masa depan pendidikan tidak harus dipertentangkan antara manusia dan teknologi.

AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Namun, nilai-nilai adab, akhlak, keteladanan, dan pendidikan karakter harus tetap menjadi bagian utama dari proses pendidikan.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Islam.

Di tengah pesatnya transformasi digital, lembaga pendidikan dituntut untuk mampu melahirkan generasi yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, moral, dan akhlak.

Kajian Islam di Auditorium KH. Muhyiddin Zain UIM Al-Gazali tersebut pun menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali hakikat pendidikan di tengah perkembangan kecerdasan buatan.

Ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Teknologi akan terus berubah. Namun, pendidikan yang membentuk manusia beradab tetap menjadi kebutuhan yang tidak tergantikan.

Melalui perpaduan antara ilmu universitas dan adab Islam, UIM Al-Gazali diharapkan terus menjadi ruang pendidikan yang mampu melahirkan generasi berilmu, berkarakter, dan memiliki akhlak mulia dalam menghadapi tantangan zaman.

Translate »